Senin, 01 April 2013

CONTOH SKRIPSI PTK BAHASA DAN SASTRA INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu sistem yang berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan tidak jarang menghadapi kendala yang bersumber dari dalam maupun dari luar. Kendala yang bersumber dari dalam meliputi kurikulum, efektifitas guru, siswa, metode pengajaran, sarana dan prasana.  Sementara kendala yang bersumber dari luar meliputi lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga. Kendala-kendala tersebut merupakan suatu konsep yang sangat mempengaruhi tingkat pemahaman, kecerdasan dan peningkatan hasil belajar siswa. Selain mempengaruhi tingkat pengetahuan siswa, kendala yang bersumber dari luar diri siswa misalnya efektifitas dan sikap guru juga mempengaruhi nilai-nilai kognitif dan psikomotorik siswa (Syah, 2010 : 59).
Efektifitas guru merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam proses pengembangan kreatifitas peserta didik. Efektifitas guru dalam proses pembelajaran termasuk di dalamnya sikap guru baik pada saat proses pembelajaran berlangsung maupun di luar proses pembelajaran. Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.
1
Guru merupakan satu komponen manusiawi dalam proses pembelajaran yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan. Pembangunan dalam dunia pendidikan mencakup pembangunan karakter siswa menuju manusia yang mampu diandalkan dalam mengisi pembangunan nasional. Oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan yang berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pendidikan dan teknologi seperti dewasa ini (Sardiman, 2009 : 125).  
Dimyati dan Mudjiono (2009 : 170) menambahkan bahwa seorang guru yang profesional dan memiliki integritas tentunya harus memandang peningkatan nilai afektif, kognitif dan psikomotik sebagai suatu tujuan utama dalam proses pembelajaran di sekolah. Guru hendaknya memiliki tanggungjawab penuh untuk menyalurkan nilai-nilai yang berbau spiritual dan intelektual kepada peserta didik agar nantinya menjadi manusia yang penuh dengan kewibawaan, kesantunan dan keramahan. Ironisnya kekawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana.
Dunia pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar tentang moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan dan asusila. Dunia yang seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi pekerti dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh segelintir oknum pendidik (guru) yang tidak bertanggung jawab.
Realita ini mengandung pesan bahwa dunia guru harus segera melakukan evaluasi ke dalam. Seperti sudah waktunya dunia pendidikan untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman dalam memposisikan profesi guru (Boeree, 2010 :56). Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak sama-sama membawa kepentingan dan saling membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana proses pembelajaran menjadi tidak menyenangkan, membosankan dan jauh dari suasana yang membahagiakan.
Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar. Namun pada hakekatnya ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Sardiman, 2009:125). Minat, bakat, kemampuan dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) termasuk di dalamnya kesantunan dalam berbicara baik ketika siswa berbicara di dalam kelas maupun di luar kelas.
Kesantunan berbicara merupakan salah satu aspek kebahasaan yang dapat
meningkatkan kecerdasan emosional penuturnya karena di dalam komunikasi, penutur dan petutur tidak hanya dituntut menyampaikan kebenaran, tetapi harus tetap berkomitmen untuk menjaga keharmonisan hubungan (Rahardi, 2006 : 65). Keharmonisan hubungan penutur dan petutur tetap terjaga apabila masing- masing peserta tutur senantiasa tidak saling mempermalukan.
Kesantunan siswa dalam berbicara merupakan salah satu bagian dari tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, dimana siswa dapat berbicara dengan santun jika guru mata pelajaran mampu memberikan contoh yang terbaik bagi pada saat proses pembelajaran. Kurang meningkatnya kesantunan siswa dalam berbahasa indonesia disebabkan oleh sikap guru yang tidak memperlihatkan nilai-nilai yang patut untuk dicontoh oleh siswa.
SMP Negeeri 2 Gantarangkeke Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng merupakan lembaga pendidikan formal yang bertujuan menciptakan siswa yang cerdas, pandai dan santun dalam berbicara sebagai salah satu tujuan dari proses pembelajaran bahasa Indonesia. Kesantunan siswa dalam berbicara tentunya harus didukung oleh sikap guru yang mencerminkanng seor guru yang memiliki kode etik dan integritas dan profesionalisme sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing.
Berdasarkan pada pemaparan latar belakang di atas, dengan sadar peneliti mencoba melakukan suatu penelitian dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia yang menyangkut tentang kesantunan berbicara siswa dengan judul “Pengaruh Sikap Guru Terhadap Kesantunan dalam Berbicara Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Gantarangkeke Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng”

B.       Rumusan Masalah
Bedasarkan pada latar belakang di atas untuk lebih mengarahkan penelitian, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah bagaimana pengaruh sikap guru terhadap kesantunan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 2 Gantarangkeke Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng?
C.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sikap guru terhadap kesantunan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 2 Gantarangkeke Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng.

D.  Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Sebagai referensi bagi pelaku pendidikan tentang cara meningkatkan pemahaman siswa tentang kesantunan berbicara dalam bahasa indonesia.
2.    Sebagai bahan informasi yang dapat menambah wawasan peneliti dan pelaku pendidikan tentang pengaruh sikap guru terhadap kesantunan siswa dalam berbicara.
3.    Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar